Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, ...... (QS. Al-Hadid : 20)
Kamis, 31 Oktober 2019
Marah adalah Perangai Orang Bodoh
Minggu, 13 Oktober 2019
Tak lulus CPNS/PNS bukan berati tak hidup cukup
Begitulah kira kira moment pedas yang terjadi dikalangan masyarakat. Bahkan sebagian orang menilai Kalo tidak PNS status sosialnya biasa saja ! rendah, rendah banget, hina, hina banget dll.
Kamis, 10 Oktober 2019
Hikmah Sering Mengingat Kematian
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, (Al Mulk : 1)
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al Mulk : 2)
Mengingat kematian merupakan suatu pemutus angan angan dunia, menyadarkan manusia yang beriman tentang tujuan hidup sebenarnya.
Tak ada manusia hidup didunia ini yang abadi, harta benda yang diupayakan kelak ditinggalkan, kekuasaan yang dulu dipertahankan kelakkan dilepaskan.
Selagi masih ada waktu singgah didunia, mau digunakan untuk apa sisa umur ini ? Apakah ingin terus panjang angan-angan, beregois diri, bersombong diri ? atau menuliskan history amal terbaik di tempat persinggahan ini (dunia) yang kelak nanti dibawa pulang dan menjadi berita bahagia dikampung halaman akhirat.
Bukankah mau bila diri ini disambut para penghuni surga dan para malaikat dengan kerinduan mereka yang penuh dengan kasih sayangnya, menjumpai nabi Muhammad Saw serta melihat pencipta alam semesta Allah SWT. Atau malah sebaliknya, Dirindukan Neraka?
Oleh karena itu marilah untuk sering sering mengingat kematian. Bayangkan jika saat ini sholat, doa, sedekah, kebajikan, kebaikan dan amal-amal sholeh yang dikerjakan adalah sesuatu yang terakhir kalinya dikerjakan lalu setelah itu diri ini akan wafat, tentu kita akan melakukannya dengan sebaik mungkin.
By Fuad Rahardi
Rabu, 09 Oktober 2019
Keutamaan Perjalanan Jauh / Safar
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ
"Safar adalah bagian dari ‘adzab (siksaan)”. (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927)
Ada tiga doa yang mustajab; doanya orang yang berpuasa, doanya orang yang terdzalimi dan doanya musafir.” (Shohih Al-Jami’ Ash-Shoghir no. 3030).
Ada tiga waktuktu diijabahi (dikabulkan) do’a yang tidak diragukan lagi yaitu: (1) do’a orang yang terzholimi, (2) do’a seorang musafir, (3) do’a orang tua pada anaknya.” (HR. Ahmad 12/479 no. 7510, At Tirmidzi 4/314 no. 1905, Ibnu Majah 2/1270 no. 3862. Syaikh Al Albani menghasankan hadits ini)
Dari hadist diatas menjadi dalil yang menunjukkan bahwa safar adalah salah satu waktu dimana doa-doa seorang hamba mustajab sangat diharapkan akan dikabulkan Alloh subhanahu wata’ala.
Selasa, 08 Oktober 2019
Suka berhutang sebab jadi pendusta
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallaahu ‘anhaa, bahwasanya dia mengabarkan, “Dulu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa di shalatnya:
( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ)
“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dari fitnah Al-Masiih Ad-Dajjaal dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hal-hal yang menyebabkan dosa dan dari berhutang“
Berkatalah seseorang kepada beliau:
( مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ؟ )
“Betapa sering engkau berlindung dari hutang?”
Beliau pun menjawab:
( إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ, حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ. )
“Sesungguhnya seseorang yang (biasa) berhutang, jika dia berbicara maka dia berdusta, jika dia berjanji maka dia mengingkarinya” (HR Al-Bukhaari)
Berhutang sudah menjadi tren masyarakat, berbagai produk untuk berhutang banyak sekali ditawarkan kepada masyarakat saat ini baik dari industri keuangan perbankan maupun non perbankan. Bahkan banyak negara didunia ini berhutang dengan negara lain untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya.
Nabi muhammad SAW pernah berhutang dalam hidupnya, beliau berhutang dengan suatu jaminan dengan memberikan baju perangnya sebagai jaminan. Beliau memberikan contoh pada umatnya bagaimana berhutang yang dibolehkan didalam Islam. jika nabi tidak pernah berhutang tentu umatnya diharamkan berhutang.
Namun pada dasarnya nabi tidaklah suka berhutang karena beliau meminta kepada Allah perlindungan dari sifat suka berhutang. Nabi Muhammad SAW menyarankan kepada umatnya agar jangan suka berhutang. Oleh karena itu hendaklah kita meminta kepada Allah sebagaimana nabi Muhammad meminta perlindungan dari berhutang.
Dari sabda Nabi Muhammad SAW hadist terakhir diatas, bahwasanya sesorang pendusta dan seseorang yang sering ingkar janji itu adalah orang yang suka berhutang. Kenapa suka berhutang jadi suka berdusta dan ingkar?
Hadist ini memiliki arti/ilmu yang sangat luas, bukan sekedar menjelaskan ketika ditagih maka orang akan suka berbohong dan memberikan janji palsu namun lebih dari itu. Wallahhu a'lam, kesimpulannya bisa ketahui bagaimana ciri-ciri orang pendusta dan pengingkar janji ! dari gaya hidupnya, gaya kepimpinannya, yaitu orang yang suka / biasa berhutang.
Marilah untuk selalu berlindung kepada Allah dari prilaku suka berhutang, jika sudah terlanjur berhutang mari segera melunasinya didunia dengan meminta pertolongan Allah. jika tidak, siap siaplah mempertanggungjawabkan hutang tersebut (yang belum dibayar) diakhirat. Nauzubillahminzalik.
Zikir sebab mendatangkan Keberuntungan
Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS: Al Jumu'ah 10)
Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. (QS Al innsan 25)
Berzikir adalah salah suatu cara mengingat Allah dimanapun dan kapanpun. Hendaklah orang yang beriman selalu berdzikir sebanyak-banyaknya. Allah telah mengatakan didalam ayat diatas, jika kita inginkan suatu keberuntungan maka ingatlah Allah sebanyak-banyaknya pagi dan petang. Dan ketehuilah saudaraku bahwasanya janji Allah itu benar.
Marilah kita biasakan dan memaksakan diri untuk berzikir kepada Allah diawaktu sempit dan lapang, agar kita mendapat keberuntungan dunia dan akhirat.
Senin, 07 Oktober 2019
Jangan menghina/ mengejek walau bercanda
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain, pen.). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (QS. Al-Hujuraat : 11)
Bercanda memang suatu hal yang membuat hati pelakunya gembira namun jangan sampai menjadi zholim karena tak jarang bercanda dapat membuat perasaan orang lain bersedih/tersakiti, jengkel atau marah tanpa kita sadari. Siapa sih yang tahu hati dan perasaan orang lain kalo bukan pemiliknya sendiri dan sang penciptanya Allah SWT.
Dalam bercanda tak jarang pelakunya sering bersikap merendahkan, meremehkan, mencela, memalukan (baik dengan tindakan ataupun perkataan walau itu suatu kebenaran yang sebenarnya), mengumpat dan banyak sebagainya.
Mari kita pahami hadits ini;
Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91).
Bukankah sesuatu yang merendahkan atau meremehkan apapun bentuknya selama suatu perkataan / perbuatan itu dapat membuat orang lain menjadi tersakiti maka hal itu adalah suatu kezholiman atau bahkan menjadikan kesombongan diri. Hati hatilah kepada orang yang telah anda rendahkan tersebut baik niat serius maupun tidak.
“Waspadailah doa orang yang dizalimi, sebab ia akan diangkat naik ke langit seakan-akan bagai percikan bunga api.” (Hadits shahih).
Marilah kita tinggalkan sifat yang buruk salah satunya mencela atau merendahkan orang lain, dan jika kita menjadi orang yang dicela maka bersabarlah dan memohonlah doa yang baik, sebab doa orang yang terzalimi pasti segera dikabulkan.
Lebih baik diam daripada berkata yang tidak bermanfaat.
By Fuad Rahardi, 7 Oktober 2019
Sabtu, 05 Oktober 2019
Muliakanlah Paraulama
“Para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham (harta). Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak (menguntungkan).” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud)
Penjelasan dari hadits diatas, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwasanya ulama adalah pewaris para nabi. Sebagai manusia yang beriman kepada Allah (tuhan yang tidak beranak dan diperankan) selama masih hidup didunia kita diharuskan untuk terus belajar mendalami ajaran agama Islam agar kelak dapat selamat dari sesuatu yang menyesatkan dan juga mendapatkan keberuntungan kehidupan didunia dan akhirat. Maka dari itu ketika seseorang menuntut ilmu agama Islam diwajibkan berguru atau mengikuti para ulama yang benar-benar mejalankan agama Islam sesuai Al Qur'an dan sunah, karena merekalah para pewaris ilmu para nabi yang sesungguhnya.
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)
Menghormati dan memuliakan para ulama termasuk suatu perilaku yang baik sebab hal itu menandakan adanya ketaqwaan hati bagi seorang muslimin. Para ulama memiliki banyak sekali pengetahuan tentang ilmu ilmu agama yang dengan senang hati selalu mereka syiarkan kepada insan, agar kita mendapatkan kepahaman ilmu yang diajarkannya tentulah sebagai penuntut ilmu kita harus menghormati serta memuliakan mereka. Ibnu Mas’ud z mengatakan bahwa Rasulullah n bersabda:
“Tidak boleh ada hasad (berkeinginan mendapatkan) kecuali terhadap dua golongan: orang yang Allah l limpahkan harta kepadanya lalu dia belanjakan di jalan yang benar, serta orang yang Allah l karuniakan hikmah (ilmu) lalu dia tunaikan (amalkan) dan ajarkan.” (Muttafaqun ‘alaih)
Sayang sekali jika mendengar berita disuatu negeri terdapat banyak ulama ulama yang didiskriminasi oleh penguasa negerinya sendiri, demi kepentingan kekuasaan. nauzu billahi min zalik. Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka semua. Penulis secara pribadi mengajak agar kita sebagai umat muslimin untuk memuliakan para ulama sebagai pewaris para nabi serta terus belajar mendalami syiar syiar agama (ilmu agama). Semoga kita dapat melanjutkan syiar syiar yang mereka ajarkan kepada generasi selanjutnya dan semoga Allah memberikan selalu rahmat dan hidayahnya kepada kita. Aamminn
By Fuad rahardi , 5 Oktober 2019
Jumat, 04 Oktober 2019
Kebenaran Al Qur'an sifatnya Nyata
Al Qur'an bukanlah kitab yang fiksi. Sifat dari fiksi adalah cerita yang tidak nyata yang diharapakan jadi nyata sebagian atau seluruhnya bahkan ada yang tidak diharapakan selurunya menjadi nyata. walaupun suatu saat sebuah karangan atau cerita fiksi itu ada yang menjadi kenyataan. namun tidak semua bagaian dari sebuah cerita fiksi itu menjadi suatu kenyataan.
Hal ini berbeda jauh dari Al Qur'an, semua yang diceritakan dalam Al Qur'an adalah nyata dimasa kejadiannya dan menjadi kenyataan pada masa yang akan datang.
Al Qur'an terdiri dari 30 juz, 114 surat, 6666 ayat. Kandungan secara garis besar isi Al Qur'an menurut orang yang awam seperti penulis adalah berisikan cerita peristiwa yang telah terjadi dari umat / masa terdahulu, tentang hukum hukum Allah (syariat islam), dan tentang masa yang akan datang yang pasti akan terjadi. Jadi apabila dikatakan bahwa Al Qur'an itu fiksi sangat tidak mungkin.
Sebagai orang Islam wajib hukumnya meyakini firman firman Allah yang semuanya terkandung didalam Al Qur'an itu adalah nyata / benar adanya dan dapat dibuktikan kebenarannya.
Pertanyaannya bagaimana manusia bisa membuktikan kebenaran itu? Sifat kebanyakan manusia yang tidak beriman atau tidak percaya agar dapat yakin terhadap sesuatu hal, bukankah harus melihat bukti kongkrit yang sudah terjadi ?
berkaitan dengan Al Quran. Seperti yang dijelaskan diatas bahwasanya bagi mereka yang mau berfikir tentulah mereka dapat membuktikan kebenarannya itu pada sesuatu hal atau peristiwa didalam Al Qur'an yang sudah terjadi (masa terdahulu), contoh kisah zulakrnain, kisah Firaun, peristiwa laut yang berpisah dan banyak lainnya. Karena dari peristiwa yang sudah terjadi itulah manusia harusnya berfikir untuk sesuatu hal yang belum terjadi seperti yang disebutkan didalam Al Qur'an tersebut! Contoh tentang adanya hari kiamat, hari kebangkitan, hari ketika manusia dihisab, dan hari pembalasan.
Ketahuilah saudaraku Al Qur'an itu untuk manusia yang mau berfikir. Dan Al Qur'an itu bukan buatan manusia yang bisa direvisi atau dirubah rubah isinya.
By Fuad rahardi, 4 Oktober 2019
Rabu, 02 Oktober 2019
Bahagia itu sangat dekat bagi orang bersyukur
Orang Beriman Harus Memeriksa Kebenaran Berita
Wahai Rasa Malu menetaplah Pada Qolbu
Tahajud Amalan Sunah yang Mesti Dijaga
Selasa, 01 Oktober 2019
Wahai nafsu tunduklah engkkau padaku bukan pada hawa (kesenangan-kesenangan Dunia)
By Fuad Rahardi, 02 Oktober 2019
Cepat atau Lambat Doa Mu Kepada Allah Pasti Dikabulkan
Anugerah Allah Untuk Orang Yang Taat
- Allah memberikan jalan keluar baginya dari masalah / kesulitan kehidupan apapun bentuknya itu
- Allah memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya
- Allah akan mencukupkan (keperluan)nya dan Allah pula yang melaksanakan urusannya, dapat diartikan bahwa Allah akan memberikan pertolongan atau petunjuk dalam urusanya
- Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya
- “........., Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan jalan keluar baginya.” (QS. At-Thalaq:2)
- dan Dia (Allah) memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS. At-Thalaq:3)
- “........,Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan baginya dalam urusannya”. (QS. At-Thalaq:4)
- Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu; barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya. (QS. At-Thalaq:5)
Postingan Populer
- Makalah Teori Akuntansi konsep Pendapatan
- Zikir sebab mendatangkan Keberuntungan
- Bahagia itu sangat dekat bagi orang bersyukur
- Tak lulus CPNS/PNS bukan berati tak hidup cukup
- Keutamaan Perjalanan Jauh / Safar
- Suka berhutang sebab jadi pendusta
- Memilih teman yang baik
- Kebenaran Al Qur'an sifatnya Nyata