Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Februari 2014

Lalat Vs Semut



Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas sebuah tong sampah di depan sebuah rumah. Suatu ketika, anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah. Kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat.

“Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar,” katanya. Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.

Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan. Esok paginya, nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.

Tak jauh dari tempat itu, nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua, “Ada apa dengan lalat ini, Pak? Mengapa dia sekarat?” “Oh.., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.”

Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi, “Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?”

Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, “Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama.” Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius, “Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini.”

" Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda. "

_ Mario Quotes

Minggu, 17 Maret 2013

Keluh Kesah


"Sesungguhnya manusia itu di ciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh. Dan Apabila mendapat kebaikan, ia kikir "( Q.S Al Ma'aarij(70) :19-21)


rasanya tidak asing ditelinga kita kalimat-kalimat bernada keluhan, entah itu dari orang sekitar kita atau bahkan terlontar dari mulut kita sendiri. seolah-olah selalu ada saja hal yang kita keluhkan, entah itu cuaca yang sangat panas, hujan yang tiada henti, permasalahan ekonomi kita, sampai hal-hal kecil lainnya.

Berkeluh kesah adalah ekspresi ketidakpuasan dan kekecewaan seseorang terhadap keadaan di sekitarnya, hal ini mungkin terjadi karena kesenjangan antara harapan dan realitas yang ada, dan ini akan sangat sering terjadi di dalam kehidupan ini. Sebenarnya berkeluh kesah itu sifat yang sangat manusiawi, karena manusia diberikan nafsu, sesuai dengan firman allah diatas.

menurutku, manusia cenderung mudah berkeluh kesah karena memandang segala sesuatunya dari sisi negatifnya saja. padahal segala sesuatu pasti ada sisi baiknya, namun pengetahuan manusia yang terbataslah yang membuat kita hanya mengetahui sisi negatifnya saja, tanpa kita tahu rencana indah yang dimiliki allah untuk kita. jika diibaratkan, kita adalah seseorang yang melihat rajutan kristik dari bawah, sehingga yang terlihat hanya benang2 yang semrawut dan sangat jelek. akan tetapi allah sang perajut, sedang membuat sebuah rajutan indah untuk kita, jika kita mampu melihatnya dari atas, atau dari sisi positif.

mari kita teladani salah seorang cucu rasulullah SAW, Ali Zainal Abidin yang dalam sakitnya berdoa :" Ya Allah. Aku tak tahu bagaimana yang harus aku syukuri , sehat atau sakitku? Dimana diantara pujian itu yang patut aku sampaikan pujian padaMU? Apakah waktu sehat ketika Engkau senangkan aku dengan rejeki MU yang baik dan Engkau giatkan aku dengan rejeki itu untuk memperoleh ridho dan karuniaMU, Engkau kuatkan aku untuk melaksanakan ketaatanku padaMU atau waktu sakitku ketika Engkau membersihkan dosaku dan meringankan dosa-dosaku yang memberati punggungku, menyucikan diriku dari liputan kesalahan mengingatkan aku untuk bertaubat kepadaMU dan menyadarkan aku untuk menghapus kekhilafanku dan melaikan syukur atas nikmatMU?"

sesungguhnya ketika kita diuji oleh allah dengan segala macam kekurangan, kesulitan, bukanlah alasan untuk kita kemudian berkeluh kesah atau bahkan menyalahkan ketetapan allah SWT. yang harus kita sadari adalah betapa besarnya nikmat yang telah diberikan allah kepada kita semua. dan ingatlah janji allah,  bersama kesusahan akan selalu ada kemudahan. seorang bijak juga pernah berkata, " Kesulitan yang datang sebelum kemudahan itu laksana rasa lapar yang datang sebelum ada makanan."  

namun, apakah keluh kesah sepenuhnya dilarang??? tidak, karena dalam lanjutan ayat diatas, allah berfirman, “……… kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, ……….” Allah sesungguhnya memberi kita sebuah sarana berkeluh kesah kepadanya, yaitu melalui sholat. Allah tidak pernah tidur dan tidak pernah menutup telinga, seharusnya kepada-Nya-lah kita harus berkeluh kesah, memohon pertolongan dan bergantung. bukan kepada sesama makhluk.

keluh kesah kepada sesama manusia juga bukan tidak boleh. dalam batasan tertentu keluh kesah atau curhat ke orang-orang sekitar juga dapat membantu. lalu bagaimana batasannya?? batasan yang harus diingat adalah perbedaan keluh kesahnya, jika kepada sesama makhluk allah kita berkeluh kesah sebatas membagi beban, bercerita dan mohon pendapat, sedangkan kepada allah kita memohon pertolongan, mohon kemudahan, dan menggantungkan harapan karena hanya kepadanya kita memohon. ingat, berhati-hatilah dalam mengeluh, jangan samapi keluhan kita berbentuk pertanyaan terhadap ketetapan allah apalagi sampai gugatan akan "nasib" kita, naudzubillah.....

sabar dan solat, demikianlah tuntunan islam dalam menghadapi kesusahan dan kesulitan. sesungguhnya allah maha pengasih dan maha penyayang, DIA tak akan memberi cobaan yang melebihi kemampuan manusia. jadi, makin besar kesusahan yang menimpa kita, sesungguhnya makin besarlah kualitas kita dihadapan Allah SWT. berbahagialah....


sumber : http://katafuad.blogspot.com












x

Kamis, 14 Juni 2012

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA



Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping ku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA


Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata : “Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA


Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT



Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA


Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM


Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH


Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
*******
Sayangilah Ibumu, sesuai dengan perintah Rasulullah saw. ” Berbaktilah pada Ibumu, Ibumu, Ibumu”.

Translate