Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label news. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2013

Bunga Bangkai Di komplek Candi Muaro Jambi

Selasa 5 November 2013 sekitar pukul 15.00 WIB. Maksud dari seorang anggota temannya saya ''Nanda Eka Putra" hendak membuang air kecil dibelakang WC umum (semak-semak) di komplek Candi Muaro Jambi Provinsi Jambi. Setelah ia menunaikan hajat, seketika itu nanda mencium aroma yang tak sedap disekitarnya. Dan dari arah yang tidak begitu berjauhan ia melihat seonggok bunga dengan tinggi sekitar 10 cm, yang diperkirakan adalah tunas bunga bangkai.
Bunga Bangai Di komplek Candi Muaro Jambi - 5 November 2013

Bunga bangkai merupakan tumbuhan dari suku talas-talasan endemik dari Sumatera, Indonesia, yang dikenal sebagai tumbuhan dengan bunga (majemuk) terbesar di dunia. Tumbuhan ini memiliki dua fase dalam kehidupannya yang muncul secara bergantian, fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif muncul daun dan batang semunya. Tingginya dapat mencapai 6m. Setelah beberapa waktu (tahun), organ vegetatif ini layu dan umbinya dorman. Apabila cadangan makanan di umbi mencukupi dan lingkungan mendukung, bunga majemuknya akan muncul. Apabila cadangan makanan kurang tumbuh kembali daunnya.


"Hingga tahun 2005, rekor bunga tertinggi di penangkaran dipegang oleh Kebun Raya Bonn, Jerman yang menghasilkan bunga setinggi 2,74m pada tahun 2003. Pada tanggal 20 Oktober 2005, mekar bunga dengan ketinggian 2,91m di Kebun Botani dan Hewan Wilhelma, Stuttgart, juga di Jerman. Namun demikian, Kebun Raya Cibodas, Indonesia mengklaim bahwa bunga yang mekar di sana mencapai ketinggian 3,17m pada dini hari tanggal 11 Maret 2004". (http://id.wikipedia.org/wiki/Bunga_bangkai)

Amorphophallus titanum (latin)

Nanda Eka Putra

Nanda mengatakan "bisa jadi, sayalah orang yang pertama kali menemukannya dilokasi candi tersebut". Tak heran ia berkata demikian ! lokasi bunga yang cukup tersembunyi membuat bunga langka tersebut sulit untuk dijumpai oleh masyarakat umum.  



fuad rahardi

Selasa, 10 September 2013

Unta Bisa Tularkan Virus MERS


Para ilmuwan menunjukkan unta menjadi penyebab Virus sindrom pernapasan (Mers) orang-orang di Timur Tengah. Sejak virus pertama kali diidentifikasi September lalu, diketahui telah ada 94 laporan penyakit termasuk 46 kematian terjadi di Arab Saudi dikutip Arabnews, Minggu (11/8/2013).

Para ahli sebagian besar masih bingung cara virus ini dapat menginfeksi orang-orang.
Dalam studi awal, ilmuwan Eropa menemukan jejak antibodi terhadap virus mers di dromedaris atau unta tapi bukan virus itu sendiri. Antibodi pada unta pernah terinfeksi mers atau virus serupa sebelum melawan infeksi. Peneliti menemukan antibodi ini dari 50 sampel darah unta dari Oman, dan 15 dari 105 sampel dari unta Spanyol. Hewan dari Spanyol, Belanda dan Chile diuji dan dibandingkan dengan unta dari Oman. Antibodi Mer ditemukan dalam tes yang dilakukan pada sapi, domba atau kambing.
"Menemukan virus Mers seperti mencari jarum di tumpukan jerami, tetapi menemukan antibodi setidaknya memberikan indikasi dari mana sumber harus dicari," kata Virology dari Netherlands’ National Institute for Public Health and the Environment, Marion Koopmans.
Studi ini dipublikasikan dalam Lancet Infectious Diseases. Koopmans berharap hasil yang ditemukan akan sama seperti populasi unta lainnya di Timur Tengah.
"Kita tidak bisa mengatakan ini membuktikan unta adalah reservoir untuk virus mers tetapi hal ini menunjukkan ada sesuatu yang terjadi dengan unta yang mungkin relevan bagi orang-orang," kata Koopmans.

Mers merupakan bagian dari coronaviruses yang dapat menyebabkan flu biasa bahkan SARS, yang memicu wabah global pada tahun 2003. Gejalanya diantaranya demam, batuk, masalah pernapasan, radang paru-paru dan gagal ginjal. "Unta mungkin terlibat dalam virus Mers tetapi juga bisa dari sapi, kambing atau sesuatu yang sudah terinfeksi virus ini," kata Virologist di National Institutes of Health, Vincent Munster. World Health Organization (WHO) menyebut temuan-temuan unta ini merupakan perkembangan penting. "Harus ada beberapa langkah lain di suatu tempat untuk mencari tahu virus ini bisa mengakibatkan infeksi pada manusia," kata juru bicara WHO, Gregory Hartl. 

sumber :  liputan6.com

Translate